Archive for September, 2006

#4 Kebingungan : Where is My Mr.Right?

Sunday, September 24th, 2006

Sebetulnya sah-sah saja mematok syarat ketat dalam memilih calon pasangan hidup. Namanya juga, pilih suami, sekali untuk seumur hidup. Hanya saja, seyogyanya tiap-tiap individu menyadari kondisi masing-masing. Kalau memang punya tuntutan tinggi, hendaknya sadar diri untuk lebih bersabar dan tidak protes kanan-kiri, atau malah yang lebih parah, melemparkan kesalahan pada kualitas pria zaman sekarang (memangnya apa yang salah dari pria zaman sekarang?). Ada pula yang mengutuki diri sendiri, merasa diri kurang cantik, kurang supel, kurang ini, kurang itu.. dan lain-lain. Namun, begitu ada pria yang mendekati, langsung mengkritisi dan menolak dengan 1001 macam alasan. Tolong deh!

Ada dugaan, mungkin yang sesungguhnya terjadi adalah wanita-wanita zaman sekarang, dengan segala kehebatan dan ketangguhannya, mengalami anomi alias kebingungan. Mungkin, mereka terbiasa dengan kodratnya ‘di bawah’ dan bukan ‘di atas’ (baca : budaya patriarkhi). Mungkin, mereka terbiasa dengan ideologi ‘pria seharusnya punya penghasilan lebih besar’, ‘pria seharusnya lebih kuat’, atau ‘pria seharusnya lebih tahan banting’, dan seterusnya. Akhirnya, pergeseran konstruksi sosial (baca : tatanan jender), sebagai efek dari gerakan emansipasi wanita, menimbulkan banyak implikasi tak terduga di dalam kehidupan kaum wanita itu sendiri.

Di satu sisi, wanita terus-menerus menuntut perbaikan hak dan persamaan derajat dengan kaum lelaki. Agaknya, aksi ini berangkat dari pola budaya patiarkhat yang telah sekian lama tersosialisasi hingga akhirnya melekat dalam sistem kognisi masyarakat, tak terkecuali kaum wanita, bahwa kaum lelaki adalah kaum yang lebih tinggi daripada mereka. Oleh sebab itu, tak henti-hentinya mereka memperjuangkan emansipasi wanita.

Namun di sisi yang lain, di saat kaum wanita telah mencapai kemajuan yang pesat dalam hampir semua aspek kehidupan, mereka justru gagal melihat fenomen ini secara utuh. Mereka yang kini merasa diri sudah memiliki segalanya (karier, uang, kecantikan, gaya hidup yang modern, dan kemandirian tiada tara), malah justru menuntut kaum lelaki yang lebih kuat lagi, lebih mapan lagi, lebih dewasa lagi, lebih ‘berduit’ lagi, dan ‘lebih-lebih’ yang lain, untuk mereka jadikan pasangan yang mereka anggap layak untuk bersanding dengan mereka. Tentu saja ini membingungkan semua pihak. Kaum wanita itu sendiri menjadi bingung. Apalagi kaum lelakinya!

Kesimpulannya, masih banyak wanita-wanita yang, meminjam istilah Radhar Dahana, hidup global tapi standar lokal. Maunya jadi fun fearless female tak terkalahkan (oleh siapapun juga, termasuk laki-laki), tapi juga sekaligus pingin punya suami yang lebih hebat daripada wanita (karena memang haruslah demikian!). Ini siyh namanya double standard!

Saya, Upik dan Pingkan pun masing-masing terdiam. Mencoba menuai pelajaran dari percakapan siang itu. Memang benar, apa yang pernah dikatakan oleh seorang sahabat, bahwa hidup itu belajar. Dan siang itu, kami bertiga belajar sesuatu.. menyadari sesuatu, supaya kelak kita semua semakin bijaksana dan menghargai setiap kesempatan yang datang.

Lalu Pingkan bergumam perlahan, “A winner seeks for the goodness in a bad man, and work with this part of him. A loser looks only for the badness in a good man, and therefore finds it hard to work with anyone”. Kutipan ucapan bijak Sydney Harris menutup pembicaraan kami sore itu.

kelinci_kebon

#3 Kebingungan : Where is My Mr.Right?

Sunday, September 24th, 2006

Lalu wanita-wanita itu pun sibuk berujar, “Riyan sih orangnya overall oke, tapiii kalo ‘ngomong suka ‘gak penting gitu dee.. males donk?”. Kalau begitu, apanya yang ‘overall’, Jeng?

Lain waktu, adapula yang beralasan seperti ini, “Kalo sama Abi, ‘gak tau kenapa ya, ‘gak ada ajah chemistry-nya. Gue tau siyh dia baik.” (Catatan : Abi, lajang 29 tahun, Senior Project Manager di sebuah perusahaan kontraktor asing, penghasilan sudah 2 digit, rajin, agak pemalu, konservatif namun bersahaja).

Kemudian, ada pula yang seperti ini, “Gue males kalo sama yang belum terlalu mapan. Gini-gini juga kan, sebagai wanita kita kudu realistis. Nah kalo Galuh itu, ya gue liat dia orangnya terlalu doyan having fun, boros juga, padahal kariernya mandek.”

Yang lebih edan, ada yang nekat menolak cucu konglomerat simply cuma dengan alasan, “Tampangnya culun..” Ini baru namanya nekat!

Yang terjadi adalah, selalu saja ada yang salah with those guys.

“Heran degh! ‘Mbo ya ada gitu kek satuuu aja yang bener. At least di mata gue gituh!”, protes Upik dengan ketus.

“Sama donk! Gue juga heran, Pik!”, saya pun menimpali.

‘Gimana bisa ‘gak mengherankan? Lha wong dikasih Mr.Sweet Guy, yang baik-baik, yang kalem, yang selalu nurutin kemauan cewenya, malah protes, “Ahh, he’s just too regular! Terlalu predictable, wajar donk kalo gue boring!”

Lain waktu dapet cowo yang rebellious, unpredictable dan tipe badboy, teteup luh protes, “Wuaduh, kalo yang model begini cocoknya jadi cowo gue pas zaman sma aja degh. Kalo dijadiin suami gak kuat gue, terlalu ‘gak bisa dipegang!”. Emang apanya yang mau di ’pegang’, Jeng?

Dan protes-protes semacam itu will go on and on. Dapet cowo cuek, dibilang kurang romantis. Dapet cowo sensitif yang puitis dibilang terlalu melan dan ‘kurang cowo’. Maksudnya ‘batang’-nya separuh ukuran barangkali!

(bersambung ke #4)

#2 Kebingungan : Where is My Mr.Right?

Wednesday, September 13th, 2006

Setuju dengan pernyataan Bob Calabritto di dalam sebuah artikelnya di majalah Cosmopolitan, kaum wanita di seluruh dunia memang telah bangkit. Pergerakan emansipasi wanita really is a thing! Namun, tak luput dari hukum alam, sebuah perubahan diikuti dengan begitu banyak konsekuensi yang harus dihadapi. Ada konsekuensi yang terduga, dan adapula yang tak terduga.

Betapapun kami berbeda pendapat, Saya, Upik dan Pingkan mau tak mau harus sepakat mengenai satu hal, yakni bahwa mendekati usia dua puluh lima, mulailah terdengar keluhan dari begitu banyak teman wanita yang kesulitan mencari calon suami. Calon suami di sini, sudah jelas artinya seseorang untuk diajak berpacaran serius dan bukan cuma untuk having fun  semata. Keluhan itu pun semakin jelas terdengar gaungnya, seiring dengan bertambahnya usia.

Ragam fenomen-nya bisa macam-macam. Ada yang ditaksir sekian banyak pria, namun juga tak satupun dirasa ada yang ‘sreg’ di hati. Ada yang sudah ‘terlanjur’ berpacaran serius, tapi keluhan dan penyesalan terus mengiringi seakan merasa tak puas dengan pilihan di tangan. Ada pula yang depresi, dan akhirnya mencoba metode ‘gonta-ganti’ pasangan, dengan harapan pada akhirnya bisa menemukan yang terbaik dari yang terburuk (whoaaaa!!). Yang paling malang, tersebutlah pula mereka-mereka yang, meskipun terlihat begitu sempurna (know how to dress & make up, punya karier oke, pergaulan luas dan attitude bagus), tetap saja tak satupun ‘lelaki serius’ itu muncul. Sebetulnya, apa yang tengah terjadi ? Siapa yang salah dan apa yang keliru?

(bersambung ke #3)

#1 Kebingungan : Where is My Mr.Right?

Tuesday, September 5th, 2006

Saya, Upik dan Pingkan ‘janjian’ di sebuah kedai kopi suatu sore. Seperti biasa, Upik selalu punya topik hangat untuk didiskusikan bersama. “Gue rasa yah, zaman udah berubah! Kalo dulu zaman bokap nyokap, ‘nyari pasangan hidup tuh kagak neko-neko, makanya gampang-gampang aja tuh. ‘Gak kayak sekarang dee, orang-orang tuh sibuuuk banget meningkatkan standar ini-itu, ‘netapin syarat macem-macem, at least begini, at least begitu.. yah terang aja pada stress, calon suami ‘gak kunjung nongol!”, celoteh Upik dengan semangat ’45 membuka percakapan sore itu.

“Ada apa niyh, ada apa? Sewot bener loe Pik. Wajar donk ah, wanita-wanita zaman sekarang kan mengalami kemajuan pesat dalam hampir semua aspek kehidupannya. Boleh dong kalo kita nuntut lebih?”, saya buru-buru menimpali Upik.

“Tunggu dulu degh. Zaman gak berubah-berubah amat kok. ‘Gak segitunya lagi. Cuma mungkin dulu yang repot itu orangtua-nya. Nah sekarang, wanita-wanita turun tangan sendiri menyeleksi bakal calon suami-nya. Kesimpulannya, yang namanya ‘nyari calon suami memang ‘gak pernah jadi perkara mudah sejak dulu. Besides, katanya loe ‘gak mau lagi hidup seperti Siti Nurbaya. Ya udah, take the consequences dong! Sekarang loe sendiri yang kudu repot dengan A to Z-nya proses ‘nyari calon suami.” Pingkan pun tak mau kalah mengutarakan pendapatnya.

(bersambung ke #2)